Polemik Talak di Luar Pengadilan

Analisis Hukum Positif dan Perspektif Mazhab Syafi'i terhadap Perlindungan Hak Perempuan di Indonesia

Authors

  • Nilhakim Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

DOI:

https://doi.org/10.59996/cendib.v3i4.1220

Keywords:

Extrajudicial Divorce, Positive Law, Shafi'i School, Women's Rights, Religious Court

Abstract

Extrajudicial divorce remains a recurring legal and social problem in Indonesia because the Shafi'i school, which is influential among Indonesian Muslims, regards a husband's valid pronouncement as capable of dissolving a marriage without judicial confirmation, whereas Indonesian positive law recognizes divorce only through a court process. This normative study examines that tension and its implications for women's rights by applying statutory, conceptual, comparative, case-law, and maqasid al-shari'ah approaches. Primary materials include the Marriage Law, the Religious Courts Law, the Compilation of Islamic Law, Supreme Court regulations and chamber formulations, and authoritative Shafi'i legal texts. The study finds that extrajudicial divorce may be considered religiously effective within classical Shafi'i doctrine, but it does not terminate marital status under Indonesian state law. The distinction should not be framed as a direct contradiction: classical fiqh regulates religious validity, while state law regulates public proof, legal consequences, and enforceability. Judicial divorce is therefore a legitimate procedural restriction based on public interest and siyasa shar'iyya. It protects women by securing iddah maintenance, mut'ah, child support, custody arrangements, marital-property claims, and documentary certainty. Supreme Court policy through PERMA No. 3 of 2017 and subsequent chamber formulations strengthens gender-responsive adjudication by allowing and structuring post-divorce obligations. The article proposes a harmonization model in which a prior extrajudicial pronouncement is treated as a religious fact requiring immediate judicial regularization, not as a substitute for court divorce. This model better fulfills legal certainty, justice, and the protection of life, lineage, property, and dignity.

References

Al-Nawawī, Y. ibn S. (1991). Al-Majmū‘ sharḥ al-Muhadhdhab. Dār al-Fikr.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Shāṭibī, I. ibn M. (1997). Al-Muwāfaqāt fī uṣūl al-sharī‘ah. Dār Ibn ‘Affān.

Al-Shirbīnī, M. al-K. (1997). Mughnī al-muḥtāj ilā ma‘rifat ma‘ānī alfāẓ al-minhāj. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Syāfi‘ī, M. ibn I. (2001). Al-Umm. Dār al-Wafā’.

Al-Zuḥaylī, W. (1989). Al-fiqh al-Islāmī wa adillatuhu. Dār al-Fikr.

Hadjon, P. M. (1987). Perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia: Sebuah studi tentang prinsip-prinsipnya, penanganannya oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum dan pembentukan peradilan administrasi negara. Bina Ilmu.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2017a). Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2017b). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2017 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2018). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2018 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2019). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2019 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2020). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 10 Tahun 2020 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2020 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2021). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2021 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2024). Kompilasi rumusan hasil rapat pleno kamar Mahkamah Agung Republik Indonesia (Edisi ke-10). Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kompilasi resmi ini mencakup SEMA 2017, 2018, 2019, 2020, dan 2021 serta menjelaskan fungsi rumusan kamar dalam menjaga kesatuan penerapan hukum dan konsistensi putusan.

Malikah, U., Septiandani, D., & Junaidi, M. (2021). Keabsahan talak di luar pengadilan berdasarkan hukum Islam dan hukum positif di Indonesia. Semarang Law Review, 2(2), 246–256.

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi). Kencana.

Muhsin, M., & Wahid, S. H. (2021). Talak di luar pengadilan perspektif fikih dan hukum positif. Al-Syakhsiyyah: Journal of Law & Family Studies, 3(1), 67–84. doi:10.21154/syakhsiyyah.v3i1.3063.

Radbruch, G. (2006). Statutory lawlessness and supra-statutory law. Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 1–11. doi:10.1093/ojls/gqi041.

Rawls, J. (1999). A theory of justice (Rev. ed.). Harvard University Press.

Republik Indonesia. (1974). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Republik Indonesia. (1975). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Republik Indonesia. (1989). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Republik Indonesia. (2019). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Republik Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Rifdah, R. (2022). Praktik talak pada masyarakat Bangka Belitung perspektif fiqh dan hukum positiif. Jurnal Ius Constituendum, 7(2), 262–276. doi:10.26623/jic.v7i2.5335.

Rofiq, N. (2024). The law of taking talak outside the court in the perspective of maqashid al-syariah. International Journal Ihya’ ‘Ulum al-Din, 26(1), 23–34. doi:10.21580/ihya.26.1.16526.

Saragih, T. F. R., Pulungan, S., & Budhiawan, A. (2022). Hukum nafkah mut’ah dan idah istri dalam perkara khuluk: Analisis terhadap SEMA Nomor 3 Tahun 2018. Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, 10(1), 225–242. doi:10.30868/am.v10i01.2443.

Downloads

Published

2026-06-27